Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Siswa Cuci Ompreng MBG Jadi Polemik, Kepala BGN Singgung China: Dikagumi di Sana, Dihujat di Sini

Karawang :  Polemik keterlibatan siswa dalam mencuci dan merapikan wadah makan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kebijakan tersebut dinilai memiliki nilai pendidikan karakter, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran soal keselamatan dan beban belajar siswa.
Siswa Cuci Ompreng MBG Jadi Polemik, Kepala BGN Singgung China: Dikagumi di Sana, Dihujat di Sini



Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebelumnya didampingi Wakil Kepala BGN Sudaryono, menilai kegiatan tersebut dapat menjadi sarana melatih kemandirian siswa. Ia membandingkan respons masyarakat Indonesia dengan praktik serupa di China.

“Di China, kegiatan seperti ini dikagumi sebagai bagian dari pendidikan karakter. Di sini justru dihujat,” ujar Sudaryono dalam sebuah forum publik yang videonya beredar luas.

Menurut BGN, keterlibatan siswa dalam merapikan ompreng bertujuan menumbuhkan tanggung jawab, disiplin, dan gotong royong. Selain itu, langkah tersebut dinilai dapat mengurangi beban Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta menjaga kebersihan wadah agar dapat digunakan kembali.

Namun kebijakan ini menuai kritik dari orang tua dan tenaga pendidik. Kekhawatiran muncul setelah beredar video yang memperlihatkan siswa sekolah dasar membawa tumpukan ompreng stainless melewati tangga tanpa pegangan dan jalur sempit.

“Risikonya tinggi, apalagi untuk anak SD. Lantai licin, tumpukan berat, bisa jatuh,” ujar salah seorang orang tua siswa di Karawang yang enggan disebutkan namanya.

Selain aspek keselamatan, waktu belajar siswa yang terpotong untuk antre mencuci, serta potensi bertambahnya beban tugas guru, juga menjadi sorotan. Aspek higienitas juga dipertanyakan, mengingat belum tentu siswa dapat mencuci dengan standar kebersihan yang sesuai.

Menanggapi polemik tersebut, BGN menyatakan tengah menguji coba sistem penyajian MBG secara prasmanan di sejumlah sekolah. Sistem ini diklaim dapat menjaga makanan tetap hangat dan segar saat disajikan, serta mengurangi mobilitas wadah makan.

Praktisi pendidikan menilai perlu pembagian tugas yang proporsional. Untuk siswa kelas rendah, keterlibatan cukup pada merapikan sisa makanan dan menumpuk wadah di titik pengumpulan. Sementara proses pencucian dan sterilisasi tetap menjadi tanggung jawab petugas SPPG.

Untuk jenjang yang lebih tinggi, sistem piket terbatas dengan pengawasan guru dinilai masih dapat diterapkan, selama memperhatikan faktor keselamatan dan tidak mengganggu jam pelajaran inti.

Hingga berita ini diturunkan, BGN belum mengeluarkan aturan teknis baku terkait pelibatan siswa dalam pencucian ompreng MBG.(*)

Hide Ads Show Ads