Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Gara-Gara DTSEN, Ibu Penjual Keliling Gak Pernah Dapat Bansos Malah Dianggap Miliarder

JAKARTA,beritapelitakarawang.com - Klaim pemerintah terkait penurunan angka kemiskinan dan keberhasilan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis penyaluran bantuan sosial (bansos) mendadak menjadi sorotan dan dipertanyakan publik.
Gara-Gara DTSEN, Ibu Penjual Keliling Gak Pernah Dapat Bansos Malah Dianggap Miliarder!

Pasalnya, di lapangan ditemukan fakta yang unik sekaligus ironis yang dialami oleh seorang warga bernama Eva (51).

Eva merupakan seorang ibu tunggal yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual makanan keliling di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Untuk bertahan hidup, ia harus tinggal di sebuah kontrakan sempit berukuran 3x3 meter dengan sistem sewa harian sebesar Rp20.000.

Namun, ironi terjadi ketika namanya tercatat dalam sistem DTSEN sebagai warga yang memiliki aset fantastis senilai Rp1 miliar.

"Padahal saya jualan keliling, tinggal di kontrakan sempit, dan tidak pernah terima bansos sama sekali," cetus Eva, seperti dikutip dari laporan warga.

Kisah Eva ini pun viral dan memicu kritik pedas dari warganet di media sosial. Banyak yang mempertanyakan akurasi data yang digunakan pemerintah sebagai dasar pengambilan kebijakan.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah angka kemiskinan di Indonesia benar-benar menurun karena warga makin sejahtera, atau sekadar hasil "sulap" data sosial agar statistik pemerintah terlihat bagus di atas kertas?

DTSEN sendiri digadang-gadang pemerintah sebagai data tunggal untuk memastikan penyaluran bansos tepat sasaran, menggabungkan berbagai data sebelumnya seperti DTKS. Namun, jika kasus seperti Eva terjadi, dikhawatirkan justru warga yang benar-benar membutuhkan malah terlewat dan tidak mendapatkan haknya.

Kasus Eva menambah daftar panjang keluhan masyarakat terkait carut-marutnya data penerima bansos. Banyak warga miskin yang mengaku belum pernah menerima bantuan apapun, sementara di sisi lain ada warga yang dinilai mampu justru tercatat sebagai penerima.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Kementerian Sosial maupun instansi pengelola DTSEN terkait kesalahan pendataan yang dialami Eva.

Publik kini menanti transparansi dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem DTSEN, agar kejadian serupa tidak terus terulang dan bantuan sosial benar-benar sampai kepada mereka yang berhak.(*)

Hide Ads Show Ads