Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Wibawa Nusantara Ingatkan: Kita Bukan Tidak Punya Waktu Taat, Kita Hanya Terlalu Yakin Kematian Masih Lama

KARAWANG:  Di tengah hiruk pikuk kejar target, kejar setoran, dan kejar jabatan, sebuah poster dakwah dari Wibawa Nusantara (EST. 2025) viral dan menampar halus. Kalimatnya sederhana tapi nyesek di dada.(9/10/26).

Wibawa Nusantara Ingatkan: Kita Bukan Tidak Punya Waktu Taat, Kita Hanya Terlalu Yakin Kematian Masih Lama

 "Kita bukan tidak punya waktu untuk taat ibadah kepada Allah. Shalat, zakat, puasa, infaq, shadaqah. KITA HANYA TERLALU YAKIN BAHWA KEMATIAN MASIH LAMA"

Poster berlatar biru dongker mewah dengan ornamen emas dan siluet Pura di ufuk senja itu memuat pesan yang dikutip dari tausiyah ESW berjudul  *TAAT KEPADA ALLAH ITU TIDAK LAMA, HANYA SAMPAI MATI"

Pesan tersebut mengingatkan fenomena umum di masyarakat Karawang dan Indonesia pada umumnya: sering merasa kematian masih jauh. Menyusun rencana puluhan tahun ke depan, mengejar dunia seolah waktu tak akan habis, menunda ibadah seakan kesempatan akan selalu ada, dan menangguhkan taubat seolah esok hari pasti milik kita.

Padahal, taat kepada Allah tidak selamanya. Taat hanya sampai kita mati.

"Kalau besok kita mati, maka selesai sudah kesempatan kita untuk bersujud, memohon ampun, memperbaiki diri, bersedekah, meminta maaf, dan menambah amal kebaikan. Bukan karena Allah tidak lagi layak ditaati, melainkan karena kehidupan dunia yang menjadi tempat kita beramal telah berakhir," tulis ESW dalam tausiyahnya.

Tausiyah tersebut menyoroti kebiasaan menunda kebaikan dengan dalih klasik:

"Nanti saja kalau sudah tua, aku akan lebih rajin beribadah."
"Nanti kalau urusan dunia sudah selesai, aku akan lebih dekat dengan Allah."
"Nanti kalau sudah punya banyak harta, aku akan lebih banyak bersedekah."

Padahal tidak ada yang menjamin kita sampai tua, urusan dunia selesai, atau kesempatan hari ini akan ada lagi besok.

"Kematian tidak pernah meminta izin kepada rencana-rencana kita. Ia tidak menunggu kita kaya. Ia tidak menunggu kita sukses," lanjutnya.

Harta akan berpindah tangan, jabatan akan digantikan orang lain, nama perlahan dilupakan. Bahkan orang yang hari ini selalu bersama kita akan mengantar kita ke peristirahatan terakhir, lalu kembali menjalani hidup mereka. Yang tersisa hanya apa yang telah kita persiapkan di hadapan Allah.

Mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Hijr ayat 99: _"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian."

Ayat ini menegaskan ketaatan bukan fase hidup saat susah saja, atau saat butuh pertolongan saja. Ketaatan adalah perjalanan panjang yang berakhir ketika kesempatan beramal di dunia berakhir.

Wibawa Nusantara melalui posternya mengajak untuk tidak menunggu tua untuk menjadi baik, tidak menunggu kaya untuk bersedekah, tidak menunggu hati benar-benar bersih untuk bertaubat.

Jika belum mampu banyak kebaikan, lakukan sedikit tapi sungguh-sungguh. Jika pernah jatuh dalam dosa, bangkit dan bertaubat. Yang berbahaya bukan hanya ketika berbuat dosa, tapi ketika merasa masih punya banyak waktu untuk menunda perubahan.


Ini tamparan keras tapi santun buat kita semua warga Karawang yang sibuk di pabrik, di sawah, di pasar.

Kita di Karawang sering bilang, "kerja dulu, ibadah nanti." Shift 1, shift 2, lembur, kejar UMK. Shalat ditunda, ngaji ditunda, sedekah nunggu gajian gede. Alasannya: masih muda, masih lama matinya.

Padahal poster Wibawa Nusantara ini jujur: kita bukan tidak punya waktu 5 menit untuk shalat, kita hanya terlalu yakin masih hidup sampai tua. Padahal di Karawang tiap minggu ada berita laka di kawasan, serangan jantung di kos-kosan buruh, kecelakaan di jalan raya. Kematian tidak lihat KTP, tidak lihat umur 20 atau 60.

Taat itu tidak lama, hanya sampai mati. Kalau hari ini kita masih bisa membaca, masih bisa bersujud, masih bisa memeluk orang tua di Tempuran, masih bisa minta maaf ke tetangga — itu nikmat yang belum tentu ada besok.

Wibawa Nusantara EST. 2025 ini pinter mengemas dakwah: visual mewah biru-emas, bahasa Indonesia yang semua orang paham, pesan tauhid yang langsung ke jantung.

Bukan berarti kita harus tinggalkan dunia. Tetap kerja, tetap bangun usaha, tetap kejar cita-cita. Karawang butuh pengusaha sukses, petani makmur, buruh sejahtera. Tapi jangan sampai semua itu bikin kita lupa tujuan akhir.

Carilah dunia untuk menjalani kehidupan, tapi persiapkan akhirat dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi keabadian.

Semoga ketika kematian datang, kita bukan sedang jauh dari Allah karena terlalu sibuk mengejar dunia, melainkan sedang berusaha mendekat kepada-Nya dengan membawa iman, taubat, dan amal kebaikan.

Ya Allah, jangan biarkan kami menunda taubat karena merasa masih punya waktu.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.(*)

Hide Ads Show Ads