Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Anak Asal Tasikmalaya Ditemukan di Apartemen Tokyo Tower PIK 2 Setelah 9 Hari Hilang - Polisi Selidiki Dugaan Eksploitasi WNA China

Tasikmalaya : Sembilan hari dalam pencarian, seorang anak perempuan asal Tasikmalaya, Jawa Barat, akhirnya ditemukan di sebuah apartemen di kawasan PIK 2, Tangerang, Banten.
Anak Asal Tasikmalaya Ditemukan di Apartemen Tokyo Tower PIK 2 Setelah 9 Hari Hilang - Polisi Selidiki Dugaan Eksploitasi WNA China

Korban yang masih di bawah umur ditemukan polisi di Apartemen Tokyo Tower JF 33-39 pada Minggu (11/10/2026).Bukannya sekadar kasus anak hilang, peristiwa ini justru membuka dugaan adanya modus pengantin pesanan* yang melibatkan seorang warga negara asing (WNA) asal China.

Kapolres Tasikmalaya AKBP Ade Papa Rihi mengungkapkan, korban diduga diarahkan oleh pria berinisial XM alias MJ (35), warga Guangxi, China, untuk berada di apartemen tersebut sambil menunggu kedatangannya dari Tiongkok.

Kronologi Kenalan di Dunia Maya:

Awalnya hanya berkenalan di dunia maya, berujung pada situasi yang kini diselidiki polisi.

Pada Agustus 2025, korban diketahui mengunduh aplikasi percakapan HelloTalk. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Desember 2025, XM mulai mendekatinya* melalui aplikasi tersebut. Komunikasi yang awalnya sebatas perkenalan perlahan berkembang menjadi hubungan asmara.

Pria itu disebut beberapa kali mengirimkan uang kepada korban. Polisi juga menemukan jejak transaksi keuangan yang diduga digunakan untuk membiayai perjalanan korban dari Tasikmalaya hingga ke PIK 2. Jumlah pasti uang yang dikirim masih dikonfirmasi kepada pihak perbankan.

Penyidik kini mendalami dugaan eksploitasi yang mungkin berkaitan dengan hubungan tersebut. Polisi masih menelusuri komunikasi, aliran dana, serta peran pria itu untuk mengungkap perkara secara menyeluruh.

Pengingat Untuk Orang Tua:

Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik layar ponsel, tidak semua orang yang memberikan perhatian, janji cinta, atau bantuan finansial memiliki niat baik. Terlebih bagi anak-anak dan remaja yang masih rentan mempercayai orang yang baru dikenal.

Bayangkan kecemasan keluarga selama sembilan hari mencari anak yang tak kunjung pulang. Betapa beratnya menunggu kabar tanpa mengetahui di mana anak mereka berada dan apa yang sedang dialaminya.

Kini, yang menjadi perhatian bukan hanya bagaimana kasus ini diungkap, tetapi juga bagaimana anak-anak lain bisa terlindungi agar tidak terjebak dalam bujuk rayu serupa.

Menurut kalian, siapa yang paling berperan dalam mencegah kejadian seperti ini: orang tua, sekolah, atau platform media sosial? Apakah pengawasan orang tua perlu diperketat, atau justru anak-anak harus lebih dibekali pemahaman tentang bahaya berkenalan dengan orang asing di internet? (*)

Hide Ads Show Ads