Presiden Prabowo di Puncak Satu Abad NU: Persatuan Pemimpin Kunci Kemakmuran Bangsa
Malang: Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri puncak peringatan Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu 8 Februari 2026. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan peran vital NU sebagai pilar bangsa serta pentingnya kerukunan antar-pemimpin dalam menjaga keberlanjutan pembangunan.
Presiden Prabowo mengapresiasi perjalanan satu abad NU yang dinilai selalu hadir dalam masa-masa kritis sejarah Indonesia, terutama dalam mempertahankan kemerdekaan.
“Saudara-saudara, 100 tahun kiprah pengabdian NU telah membuktikan bahwa NU sungguh-sungguh adalah pilar daripada kebesaran bangsa Indonesia. Setiap kali negara dalam keadaan bahaya, NU tampil untuk menyelamatkan. Saudara-saudara sekalian, proklamasi kemerdekaan negara kita 17 Agustus 1945 memang di Jakarta. Proklamasinya di Jakarta, tapi ujian kemerdekaan itu diuji di Jawa Timur, diuji di Surabaya. Diuji dalam pertempuran di Surabaya dan sekitarnya. Dan dalam pertempuran itu, kita bangsa Indonesia telah berhasil mempertahankan kemerdekaan kita melawan negara-negara besar di dunia,” ujar Presiden Prabowo.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa keberhasilan bangsa Indonesia melawan kekuatan besar pasca-kemerdekaan tidak lepas dari peran para ulama dan kiai di Jawa Timur. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk meneladani NU dalam menjaga persatuan nasional.
“Kita telah berhasil menghadapi Inggris pemenang Perang Dunia Kedua, rakyat Jawa Timur, rakyat Surabaya, dipimpin oleh para Kiai, para Ulama. Kita telah buktikan bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang tidak mau tunduk lagi kepada siapapun yang ingin menjajah bangsa kita. Saudara-saudara sekalian, NU selalu memberi contoh, NU selalu berusaha untuk menjaga persatuan dan memang itulah pelajaran sejarah. Tidak ada bangsa yang kuat. Tidak ada bangsa yang bisa maju. Kalau pemimpin-pemimpinnya tidak rukun, karena itu saya selalu mengajak semua unsur selalu mari kita bersatu,” tambahnya.
Presiden juga menitipkan pesan kepada para pemimpin di berbagai tingkatan agar senantiasa mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Menurutnya, kompetisi dan perbedaan pendapat adalah hal wajar, namun persatuan harus menjadi muara akhir.
“Boleh kita bertanding, boleh kita bersaing, boleh kita berbeda, boleh kita berdebat, tapi di ujungnya semua pemimpin Indonesia, semua pemimpin masyarakat harus rukun, harus menjaga persatuan dan kesatuan. Saudara-saudara sekalian, bapak-bapak ibu-ibu, adik-adikku dan anak-anakku yang aku cintai. Sejarah manusia mengajarkan kepada kita, tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perdamaian. Tidak mungkin ada perdamaian kalau pemimpin-pemimpinnya tidak bersatu, tidak rukun, tidak kompak,” tegas Presiden.
Menutup sambutannya, Presiden Prabowo mengingatkan nilai-nilai luhur bangsa dalam berpolitik dan bermasyarakat, yakni menjauhkan rasa dendam serta selalu mencari titik temu melalui musyawarah.
“Para pemimpin di setiap eselon, pemimpin politik, pemimpin ekonomi, pemimpin intelektual, semuanya harus berfikir, berfikir, berjuang, mengabdi untuk kepentingan rakyat Indonesia semuanya. Tidak boleh pemimpin punya dendam, tidak boleh pemimpin punya rasa benci, tidak boleh pemimpin punya rasa dengki, tidak boleh pemimpin selalu mencari-cari kesalahan fihak lain. Guru-guru kita, kiai-kiai kita, leluhur kita mengajarkan selalu, mikuduhur mendem jeru. Tidak boleh ada rasa benci, tidak boleh ada rasa dendam, berbeda tidak masalah, sesudah berbeda cari persatuan, cari kesamaan. Musyawarah untuk mufakat, itu kepribadian bangsa Indonesia,” pungkas Presiden.(*)


