Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Nyorog Betawi, Tradisi Sambut Bulan Suci

Jakarta : Tradisi nyorog masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Betawi, terutama menjelang Ramadan. Kebiasaan ini dijalankan sebagai bentuk penghormatan kepada anggota keluarga yang lebih tua.

Ilustrasi makan bersama saat lebaran Idul Fitri (Foto: Pexels/)

Nyorog berasal dari bahasa Betawi yang berarti mengantar atau mengirim. Dalam praktiknya, tradisi ini diwujudkan dengan mengantarkan bingkisan kepada orang tua, kakek-nenek, atau kerabat yang dituakan.

Menjelang bulan Ramadan, nyorog dilakukan oleh generasi muda sambil bersilaturahmi. Momen ini menjadi penanda akan datangnya bulan suci sekaligus ajakan mempererat hubungan keluarga.

Bingkisan yang dibawa umumnya berupa bahan makanan kebutuhan sehari-hari. Isinya bisa beras, gula, kopi, sirup, hingga ikan atau daging.

Selain bahan pokok, makanan khas Betawi juga kerap dibawa dalam rantang. Menu seperti semur atau gabus pucung sering menjadi pilihan saat nyorog Ramadan.

Tradisi ini juga berakar dari kebiasaan lama masyarakat yang menjunjung rasa syukur dan kebersamaan. Seiring masuknya Islam, maknanya bergeser menjadi sarana silaturahmi dan penghormatan.

Nyorog kembali dilakukan menjelang Idul Fitri. Tradisi ini menjadi bagian dari persiapan menyambut hari kemenangan.

Pada momen Lebaran, nyorog tak sekadar mengantar makanan. Kegiatan ini biasanya dilanjutkan dengan makan bersama di rumah keluarga yang lebih tua.

Kebersamaan saat nyorog Idul Fitri memperkuat ikatan kekeluargaan. Suasana hangat dan saling memaafkan menjadi inti tradisi ini.

Kini, bentuk bingkisan nyorog menyesuaikan perkembangan zaman. Banyak keluarga memilih sembako, buah, atau parsel praktis.

Meski mengalami perubahan, tujuan nyorog tetap sama. Tradisi ini terus dijaga sebagai simbol silaturahmi dan rasa hormat dalam budaya Betawi.(*)

Hide Ads Show Ads