Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

Legislator Nilai Perfilman Indonesia Tengah Puncak Kejayaan

Jakarta : Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menilai perfilman Indonesia saat ini tengah berada di puncak kejayaan. Ia menyebut capaian industri film nasional terus menunjukkan tren peningkatan setiap tahunnya.
Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini (kanan) saat Rapat Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional dengan Eselon Kemenekraf dan Asosiasi Film di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026

“Saya sangat bangga karena film Indonesia hari ini itu, menurut saya, lagi di puncak-puncak kejayaannya. Dari tahun ke tahun ini meningkat,” kata Novita saat Rapat Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional dengan Eselon Kemenekraf dan Asosiasi Film di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 2 Februari 2026.

Novita menegaskan film nasional telah banyak berkontribusi mempromosikan pariwisata daerah. Ia menyebut, bahkan berbagai film populer memanfaatkan latar destinasi wisata di sejumlah wilayah Indonesia.

“Mulai dari Laskar Pelangi di Belitung, kemudian Ada Apa Dengan Cinta di Jawa Tengah, 5 sentimeter. Nona Manis Sayange, Labuan Hati, di Labuan Bajo, dan Petualangan Serina di Bandung, saya rasa sudah sangat banyak sekali,” ucapnya.

Namun, Novita menilai persoalan industri film belum dibahas secara menyeluruh. Ia meminta asosiasi perfilman mengupas masalah lapangan sebelum merumuskan solusi.

Ia juga menyoroti kebocoran ekonomi industri film yang belum tertangani serius. Novita menilai isu ini perlu menjadi perhatian dalam Panja Industri Film.

Novita menilai pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam produksi film berpotensi mengancam keberlangsungan lapangan kerja pelaku kreatif. Ia menyebut penggunaan AI bukan semata inovasi, tetapi dapat mempersempit ruang kerja industri film nasional.

“AI ini mulai dari film Legenda dan lain sebagainya menurut saya ini bukan inovasi. Ini kayak malah mempersempit lapangan pekerjaan pelaku kreatif kita,” ucap legislator dari Fraksi PDI-P tersebut.

Sementara itu, Direktur Utama PT Produksi Film Negara (PFN) Riefian Fajarsyah menyoroti persoalan distribusi film nasional. Ia menyebut keterbatasan layar menjadi tantangan paling nyata bagi industri perfilman Indonesia.

“Permasalahan yang sebenarnya dirasakan paling nyata, bahkan untuk kami, PH Negara, itu adalah masalah distribusi,” ucap Direktur Utama yang akrab dipanggil Ifan Seveenteen itu. Menurutnya, ketimpangan akses layar membuat film sulit menjangkau masyarakat secara merata.

Ifan menjelaskan Indonesia idealnya memiliki sekitar 20 ribu layar bioskop secara nasional.

“Target realistisnya minimal 10 ribu layar, tetapi saat ini baru tersedia sekitar 2.400 layar,” ujarnya.

Untuk menjawab persoalan tersebut, PFN menyiapkan pendirian bioskop negara pertama bernama Sinewara di Otista Jakarta. Ia berharap proyek percontohan bioskop negara ini menjadi stimulan bagi daerah lain bergabung.

Ia juga menegaskan komitmen PFN untuk terus berperan aktif dalam mendukung industri perfilman nasional. “Ke depan, PFN akan senantiasa mengambil peran sebagai fasilitator film dan konten demi industri perfilman Indonesia yang lebih sehat, inklusif, dan berdaya saing,” kata Ifan.(*)

Hide Ads Show Ads