IHSG Bangkit Usai Intervensi Cepat Pemerintah
Jakarta : Otoritas keuangan merespons guncangan pasar akibat rebalancing indeks MSCI guna menjaga stabilitas domestik.
Pasar modal Indonesia mengalami volatilitas ekstrem pada perdagangan Kamis 29 Januari 2026, sebelum akhirnya ditutup di zona hijau menyusul langkah intervensi verbal dan kebijakan dari otoritas ekonomi tertinggi negara.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjun bebas ke level 7.654,66, memicu pembekuan perdagangan sementara (trading halt) setelah anjlok 8 persen pada sesi pertama.
Tekanan jual masif ini dipicu oleh sentimen negatif pelaku pasar pasca pengumuman evaluasi indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Namun, koordinasi cepat antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil membalikkan keadaan, hingga IHSG ditutup menguat di level 8.232,20.
Resiliensi Ekonomi dan Mitigasi Pasar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemulihan indeks merupakan cermin kepercayaan investor terhadap langkah mitigasi pemerintah.
Dalam penjelasannya di Jakarta, ia menyoroti pentingnya transparansi untuk menghalau praktik manipulasi pasar atau "saham gorengan".
"Melalui keterbukaan informasi yang jelas, kebijakan free float sebesar 15 persen saat ini sudah memadai untuk memitigasi risiko praktik perdagangan yang tidak sehat," ujar Airlangga dikutip Jumat 30 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa pemerintah tengah merumuskan mekanisme lanjutan demi menjaga stabilitas pasar modal jangka panjang.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau para investor untuk tidak bereaksi berlebihan secara emosional.
Menurutnya, gejolak ini merupakan koreksi teknis atas pandangan MSCI dan bukan refleksi dari fundamental ekonomi nasional yang merosot.
"Fondasi ekonomi kita tetap solid. Saya optimis tekanan ini bersifat temporer dan pasar akan kembali stabil dalam beberapa hari ke depan," kata Purbaya.
Ia bahkan memproyeksikan target optimis IHSG dapat menyentuh level 10.000 pada akhir tahun seiring dengan perbaikan birokrasi dan iklim investasi.
Reformasi Struktural Menuju Standar Global
Guncangan pasar ini menjadi momentum bagi regulator untuk melakukan "pembersihan" struktural.
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menekankan bahwa masukan dari MSCI adalah barometer penting bagi investor global yang harus segera ditindaklanjuti oleh BEI guna mempertahankan daya saing internasional.
Dari sisi regulator, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengambil langkah luar biasa dengan memutuskan untuk berkantor langsung di Gedung BEI mulai Jumat 30 Januari 2026.
Langkah simbolis sekaligus strategis ini bertujuan untuk mengawal percepatan reformasi transparansi dan integritas pasar.
"Ini adalah kepentingan nasional untuk memastikan BEI setara dengan standar pasar global. Fokus kami adalah reformasi yang cepat, tepat, dan efektif," tegas Mahendra.
Tantangan ke Depan
Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara Indonesia, menilai situasi ini sebagai peringatan bagi pasar modal Indonesia untuk meningkatkan likuiditas dan kedalaman pasar.
Menurutnya, kegagalan dalam beradaptasi dengan standar global dapat berisiko menurunkan posisi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.
Pihak BEI melalui Senior Advisor to Listing Directorate, Saptono Adi Junarso, menyatakan telah memetakan revisi regulasi yang ditargetkan rampung pada Maret 2026.
Penyesuaian ini mencakup perhitungan ulang free float agar selaras dengan kriteria MSCI tanpa mengabaikan koridor hukum keuangan domestik.(*)

