BNPB Sebut Hujan Ekstrem Sebabkan Banjir dan Longsor di Gunung Slamet
Jateng : Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut hujan ekstrem memicu banjir bandang dan longsor di lereng Gunung Slamet. Akibatnya, dampak bencana itu meluas ke wilayah Purbalingga, Pemalang, Brebes, dan Tegal, Jawa Tengah.
![]() |
| Warga dan petugas meninjau lokasi banjir bandang di kawasan lereng Gunung Slamet yang merusak akses jalan penghubung antardesa, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Januari 2026 (Foto: Dokumentasi/BNPB) |
“Hujan deras disertai angin kencang pada Jumat kemarin memicu banjir bandang di Kecamatan Rembang dan Karangreja. Luapan sungai dari kawasan hulu membawa material sedimen dan menutup akses jalan di Desa Serang serta Desa Kutabawa,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya, di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.
Ia mengatakan, sebanyak 31 kepala keluarga atau 110 jiwa mengungsi ke lokasi aman. Penanganan darurat, kata dia, terhambat disebabkan cuaca dan padamnya listrik.
Abdul Muhari menjelaskan karakteristik wilayah lereng Gunung Slamet memperbesar dampak bencana. Kondisi tersebut berkaitan dengan adanya respons hidrologi.
“Satu warga meninggal dunia sementara lainnya mengalami luka-luka, dua rumah rusak dan Jembatan Kali Bambangan putus total. Hal ini disebabkan karakteristik geomorfologi lereng Gunung Slamet yang sangat rentan terhadap respons hidrologi mendadak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, Afifudin, menetapkan status tanggap darurat untuk menangani dampak kerusakan. Status tanggap darurat selama 14 hari ini ditetapkan setelah fasilitas objek wisata dan infrastruktur mengalami rusak berat.
"Banjir ini lebih parah, Pancuran 13 bangunan kolam dan pancuran airnya hilang kena banjir. Oleh karena itu, kami menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk penanganan darurat," katanya.(*)

