Bencana Longsor Bandung Barat, DPR Tegaskan Peringatan Keras
Jakarta : Komisi V DPR RI menegaskan, bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah di Indonesia harus dijadikan peringatan keras. Terutama, dalam meningkatkan kesiapsiagaan dari tingkat pemerintah pusat hingga satuan terkecil di tingkat desa.
Pernyataan itu, diungkapkan Wakil Ketua Komisi V DPR, Syaiful Huda dalam merespons bencana longsor di Cisarua, Bandung Barat. Bencana itu, mengakibatkan sebanyak lima orang meninggal dunia dan puluhan rumah warga rusak.
"Situasi ini mengharuskan semua level pemerintahan, hingga ke level desa, untuk selalu waspada. Koordinasi antarlini harus diperketat agar peringatan dini dari BMKG bisa tersampaikan dengan cepat ke masyarakat," kata politikus PKB ini dalam keterangan persnya, di Jakarta, Minggu, 25 Januari 2026.
Ia menghimbau, seluruh masyarakat Indonesia meningkatkan kewaspadaan terkait potensi bencana hidrometeorologis. Yakni, seperti bencana banjir, longsor, dan angin kencang yang diprediksi masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
"Cuaca ekstrem masih mengintai, kami menghimbau masyarakat, terutama yang tinggal di lereng perbukitan dan bantaran sungai. Untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam," ucap Saiful Huda.
Proses identifikasi korban meninggal akibat bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, mulai menunjukkan perkembangan. Sebagian korban yang ditemukan telah berhasil diidentifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polres Cimahi, sementara proses pencarian korban lainnya dilanjutkan, Minggu, 25 Januari 2026, pagi.
Untuk mempercepat penanganan korban, Polres Cimahi mendirikan Posko DVI di lokasi kejadian. Posko tersebut menjadi pusat evakuasi dan identifikasi korban meninggal dunia di tengah kondisi cuaca yang masih belum bersahabat.
Kapolres Cimahi AKBP Niko Nurallah Adi Putra mengatakan, pendirian Posko DVI dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat. Langkah ini bertujuan memastikan seluruh proses identifikasi korban dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.
“Posko DVI ini menangani evakuasi serta identifikasi korban meninggal. Sebagian korban yang ditemukan sudah berhasil diidentifikasi, sementara korban lainnya masih dalam proses sesuai standar DVI,” ujar Niko di lokasi kejadian, Sabtu, 24 Januari 2026.
Menurut Niko, intensitas hujan yang masih tinggi menjadi kendala utama dalam proses pencarian dan penanganan longsor. Kondisi tersebut membuat upaya evakuasi di lapangan harus dilakukan dengan kehati-hatian ekstra.
Meski demikian, koordinasi lintas instansi terus dilakukan sejak awal kejadian. Polres Cimahi telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta sejumlah pihak terkait lainnya.
“Kami sudah berkoordinasi dengan berbagai stakeholder dan mendirikan sejumlah pos pendukung di lokasi. Namun kondisi cuaca yang tidak menentu membuat penanganan di lapangan cukup menantang,” katanya.(*)

