Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

50 Tahun Hubungan Diplomatik, UEA-Indonesia Perluas Kemitraan Strategis di Berbagai Sektor*

JAKARTA: Uni Emirat Arab (UEA) dan Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas kemitraan strategis di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, energi terbarukan, pelestarian lingkungan, hingga teknologi dan ekonomi digital.

Indonesia-UEA Perkuat Kerja Sama Energi Bersih hingga Ekonomi Digital

Penguatan kerja sama ini menjadi bagian penting dari perjalanan hubungan diplomatik kedua negara yang memasuki usia 50 tahun pada 2026.

Duta Besar UEA untuk Indonesia dan Timor-Leste, Abdulla Salem AlDhaheri, menegaskan bahwa hubungan bilateral kedua negara terus berkembang menjadi semakin luas, beragam, dan saling menguntungkan.

"Hubungan UEA–Indonesia tidak hanya bertumpu pada kerja sama antarpemerintah, tetapi juga mencakup hubungan antarpemimpin, kemitraan dunia usaha, peningkatan perdagangan, serta kerja sama pembangunan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat," kata AlDhaheri dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu (10/10/2026).

Ia menilai generasi muda Indonesia memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan tersebut, khususnya melalui pendidikan, kewirausahaan, teknologi, dan investasi.

Perdagangan Tumbuh 204 Persen

Di bidang ekonomi, tonggak penting hubungan kedua negara adalah berlakunya Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) sejak 1 September 2023. Perjanjian yang ditandatangani 1 Juli 2022 tersebut bertujuan mengurangi hambatan perdagangan dan memperluas akses pasar.

Dampaknya terlihat signifikan. Perdagangan barang nonmigas kedua negara tumbuh dari US$1,92 miliar pada 2020 menjadi US$5,84 miliar pada 2025, atau meningkat sekitar 204,2 persen.

Dari PLTS Cirata Hingga Mangrove Bali

Di sektor energi, salah satu proyek unggulan adalah PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat berkapasitas 145 MW AC yang dikembangkan Masdar dan PLN Nusantara Power dan diresmikan November 2023. Kedua pihak juga menjajaki perluasan kapasitas hingga 500 MW dan pengembangan PLTS terapung di Bendungan Jatigede.

Di bidang lingkungan, UEA dan Indonesia bersama meluncurkan Mangrove Alliance for Climate pada COP27 tahun 2022 yang kini beranggotakan 47 negara. Kemitraan lainnya diwujudkan melalui pembangunan Mohamed bin Zayed–Joko Widodo International Mangrove Research Centre di Bali dengan komitmen pendanaan UEA sebesar US$10 juta, serta inisiatif Clean Rivers senilai US$20 juta untuk mengatasi pencemaran plastik di sungai dan laut Indonesia.

AlDhaheri juga menyoroti kerja sama di bidang air dan sanitasi. Setelah Indonesia menjadi tuan rumah World Water Forum ke-10 di Bali pada 2024, UEA bersama Senegal dijadwalkan menjadi tuan rumah Konferensi Air PBB 2026 di Abu Dhabi pada 8–10 Desember.

Hubungan kedua negara juga diperkuat kedekatan antarpemimpin. Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto melanjutkan hubungan erat yang sebelumnya dibangun bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

“UEA tidak hanya berinvestasi pada proyek, tetapi juga pada kemitraan; tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada manusia; dan tidak hanya pada masa kini, tetapi juga pada masa depan bersama kedua bangsa,” pungkasnya.(*)

Hide Ads Show Ads