Kabut Asap Kebakaran Hutan Selimuti AS
New York ;Kualitas udara di Amerika Serikat menurun drastis akibat paparan asap kebakaran hutan, memicu peringatan kesehatan bagi jutaan warga.
![]() |
| Asap akibat kebakaran hutan menyelimuti Toronto pada hari Rabu, menciptakan langit yang berkabut dan memicu kekhawatiran kesehatan di tengah buruknya kualitas udara yang dialami warga (CTV) |
Sejumlah wilayah di Amerika Serikat, mulai dari kawasan Great Lakes hingga pesisir timur, kini tengah menghadapi darurat kualitas udara akibat kepungan kabut asap dari kebakaran hutan Jumat 17 Juli 2026.
Fenomena ini telah mengubah warna langit menjadi kekuningan dan memaksa otoritas setempat mengeluarkan imbauan keras agar warga membatasi aktivitas di luar ruangan.
Asap tebal tersebut, yang bersumber dari kebakaran lahan di Kanada dan sebagian wilayah Minnesota, terperangkap di permukaan tanah oleh sistem tekanan tinggi yang menetap.
Kondisi ini menyebabkan visibilitas menurun drastis dan menciptakan tingkat polusi udara yang dikategorikan tidak sehat hingga berbahaya bagi seluruh lapisan masyarakat.
Steven Freitag, seorang meteorolog dari Layanan Cuaca Nasional (NWS) di Detroit, menyatakan bahwa tingkat polusi di wilayahnya termasuk salah satu yang terburuk di dunia untuk kota-kota besar.
"Asap ini benar-benar datang dengan intensitas tinggi, dan tingkat polusinya sangat ekstrem," ujar Freitag, seraya menambahkan bahwa jarak pandang di beberapa titik bahkan berkurang hingga hanya setengah mil (sekitar 800 meter).
Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa partikel mikroskopis dalam asap tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan meresap ke aliran darah. Paparan jangka panjang terhadap partikel halus ini dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, serta masalah neurologis.
Sebuah studi yang diterbitkan tahun ini menunjukkan bahwa paparan kronis terhadap partikel asap kebakaran hutan berkontribusi pada rata-rata 24.100 kematian per tahun di 48 negara bagian Amerika Serikat.
Di Chicago, warga yang melintasi pusat kota terlihat mengenakan masker untuk menghindari aroma menyengat dari asap yang menyelimuti gedung-gedung pencakar langit. "Aroma udaranya tidak sedap. Saat bangun pagi dan mencium bau ini, itu jelas bukan pertanda baik," ujar Bill Ostrowski, 76 tahun, seorang warga setempat.
Respons Otoritas dan Ketidakpastian Cuaca
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah kota di wilayah terdampak seperti New York dan Philadelphia telah mengambil kebijakan preventif. Otoritas New York, misalnya, telah mendistribusikan ribuan masker pelindung dan memindahkan kegiatan sekolah serta taman ke dalam ruangan.
"Hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk memulai latihan lari maraton Anda," ujar Dr. Palak Raval-Nelson, komisaris kesehatan publik Philadelphia, memberikan peringatan kepada warga agar tidak melakukan aktivitas fisik berat.
Kekhawatiran publik semakin meningkat mengingat potensi durasi ancaman ini. Meteorolog NWS, Jake Petr, menjelaskan bahwa meski angin dari barat laut dapat sedikit menjernihkan langit untuk sementara, risiko kembalinya asap tetap tinggi. Berdasarkan data dari pejabat terkait, kebakaran hutan di Kanada kemungkinan besar tidak akan padam sepenuhnya hingga turunnya salju.
Sementara itu, upaya pemadaman di Minnesota masih terkendala oleh kondisi cuaca yang ekstrem. Karen Harrison, juru bicara badan terkait, menyebutkan bahwa asap tebal menyulitkan operasional helikopter pemadam kebakaran.
"Akan tetap ada titik api di lanskap ini hingga musim gugur, dan beberapa di antaranya mungkin akan terus menyala sampai tertutup salju," ungkap Harrison.
Hingga saat ini, pihak berwenang terus memantau pergerakan angin dan kualitas udara, sembari mendesak masyarakat untuk tetap mengikuti pedoman kesehatan demi meminimalisir risiko dampak kesehatan di masa depan.(*)

