Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Tradisi ‘Nyadran’ di Jawa Menyambut Ramadan Penuh Makna

Jakarta :Tradisi 'Nyadran' masih mengakar kuat dalam kebudayaan Jawa dan rutin dilaksanakan masyarakat menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Upacara ini menjadi sarana doa, penghormatan leluhur, serta persiapan spiritual masyarakat sebelum menjalani ibadah puasa.

Sejumlah masyarakat Jawa yang melakukan tradisi 'Nyadran' menjelang bulan ramadan (Foto: dokumentasi Desa Peron, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal)

Dilansir dari laman Desa Peron, Kabupaten Kendal, Nyadran lahir dari proses akulturasi antara budaya Jawa dan ajaran Islam yang berkembang di masyarakat. Selain menghormati leluhur, tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sebagai upaya pelestarian budaya secara turun-temurun lokal.

Pelaksanaan Nyadran memiliki waktu dan prosesi berbeda-beda menyesuaikan adat istiadat di setiap wilayah masyarakat setempat. Meski demikian, makna utama Nyadran tetap sama yaitu mendoakan leluhur serta memperkuat ikatan sosial masyarakat.

Nyadran merupakan tradisi mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal dunia secara bersama-sama oleh warga desa. Tradisi ini dilakukan masyarakat Jawa pada bulan Sya'ban atau Ruwah dengan mengunjungi makam leluhur setempat.

Tujuan Nyadran adalah mendoakan leluhur sekaligus mengingatkan manusia bahwa kematian pasti dialami setiap insan hidup. Tradisi ini juga menjadi sarana pelestarian gotong royong serta menjaga keharmonisan melalui kegiatan kembul bujono.

Secara historis, Nyadran telah ada sejak masa Hindu-Buddha sebelum masuknya pengaruh Islam di Nusantara Indonesia. Pada masa tersebut dikenal tradisi Sradha yang berfungsi memberi penghormatan kepada arwah raja yang wafat.

Seiring perkembangan zaman, Sradha kemudian mengalami penyesuaian dan dipraktikkan oleh masyarakat luas dengan nilai keislaman. Unsur pujian digantikan dengan pembacaan Al-Qur'an, zikir, tahlil, serta doa sesuai ajaran Islam yang berkembang.

Nyadran umumnya dilaksanakan pada bulan Ruwah atau menjelang Ramadan meski waktunya berbeda tiap daerah Jawa. Melalui rangkaian prosesi dan tasyakuran, Nyadran menjadi ekspresi syukur yang patut terus dilestarikan sebagai kearifan lokal.(*)

Hide Ads Show Ads