Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

Final Piala Afrika 2025: Duel Raksasa Benua

CasablancaMaroko dan Senegal Berebut Takhta Tertinggi dalam Edisi Bersejarah di Casablanca
Aksi penggemar DR Kongo, Michel Kuka Mboladinga, di Piala Afrika. (Foto: AFP/Gabriel Bouys)

Turnamen Piala Afrika (AFCON) 2025 akan mencapai puncaknya pada hari Minggu, 18 Januari 2026 besok, menutup rangkaian kompetisi yang penuh drama, kejutan teknis, dan dinamika geopolitik. 

Partai final yang mempertemukan Maroko dan Senegal ini menandai berakhirnya salah satu edisi turnamen paling kompetitif dalam sejarah sepak bola modern.

Perjalanan menuju final tahun ini membuktikan julukan "The Magic of the Cup of Nations" bukanlah sekadar isapan jempol. 

Di tengah padatnya kalender domestik Eropa, AFCON 2025 berhasil menyita perhatian dunia melalui narasi-narasi luar biasa sejak fase grup. 

Mulai dari kemenangan bersejarah Sudan dan Mozambik yang memberi harapan bagi warga di zona konflik, hingga fenomena budaya seperti Kuka Mboladinga, pendukung ikonik asal DR Kongo.

Dominasi dan Ketegangan Fase Gugur

Langkah Maroko menuju final tidaklah mudah. Sebagai tuan rumah, tim asuhan Walid Regragui sempat tertatih saat menghadapi Tanzania sebelum akhirnya Brahim Diaz membawa The Atlas Lions bangkit. 

Di babak semifinal, ketangguhan mental Maroko diuji lewat drama adu penalti melawan Nigeria, di mana kiper Yassine Bounou kembali menjadi pahlawan.

Di sisi lain, Senegal menunjukkan kelasnya sebagai kekuatan utama Afrika. Sadio Mane membuktikan bahwa ketajamannya belum pudar melalui gol penentu di menit akhir saat menumbangkan Mesir di semifinal. 

Kemenangan ini sekaligus mengubur ambisi Mohamed Salah dan kawan-kawan untuk melaju ke partai puncak.

Pertandingan final besok diprediksi akan berlangsung sangat ketat. Berdasarkan catatan historis di abad ke-21, tidak ada satu pun final AFCON yang dimenangkan dengan selisih lebih dari satu gol, bahkan enam di antaranya harus diselesaikan lewat titik putih.

Kontroversi Perubahan Format

Meski turnamen ini sukses besar secara kualitas permainan, mendung ketidakpastian menggelayuti masa depan kompetisi. 

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara mengejutkan mengumumkan perubahan siklus turnamen menjadi empat tahun sekali mulai tahun 2028.

Keputusan yang dipicu oleh dorongan FIFA ini memicu reaksi keras dari internal federasi. "Kita sedang membunuh diri kita sendiri," ungkap salah satu pejabat federasi.

Ia menambahkan bahwa jika keputusan ini dibawa ke Sidang Umum, maka besar kemungkinan akan ditolak secara mutlak.

Gianni Infantino, Presiden FIFA, sebelumnya menyatakan perlunya lebih banyak kompetisi untuk mengembangkan sepak bola dunia.

Namun, pengurangan frekuensi turnamen internasional terbaik di Afrika ini dinilai kontradiktif dengan visi tersebut.

Kini, fokus dunia tertuju pada Stadion Mohammed V. Maroko mengemban misi mengakhiri dahaga gelar kontinental sejak 1976, sementara Senegal berupaya mengulang kejayaan mereka di tahun 2021.

Ini bukan sekadar pertandingan sepak bola; ini adalah perayaan identitas dan warisan budaya Afrika yang tak tergantikan.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads