Karawang: Seorang guru asal SDN Batujaya 5, Karawang membuka tabir duka yang dialami bareng peserta didiknya. Ia menyebut sudah selama tiga tahun sekolahnya tidak pernah menjalankan upacara hari Senin yang sifat wajib dijalankan setiap sekolah. Yang bersangkutan menjelaskan jika hendak berolahraga pun harus mencari lapang terbuka dan itu pun ada sangat jauh lokasinya dari sekolah.
Peristiwa yang terjadi sebagaimana cerita guru tersebut membuat kaget dan prihatin yang hadir di lokasi reses dewan, mereka pun beranggapan sangat tak layak bahkan jauh dari dugaan untuk proses belajar sedemikian rupa, sungguh parahnya dan luput dari perhatian pemerintahan Kabupaten Karawang,(30/11/25).
Di lokasi saat itu, banyak dukungan (hadirin,red) mengalir kepada guru tersebut, agar Anggota DPRD Jabar Hj.Sri Rahayu untuk segara menyampaikan kondisi sekolah kepada pihak-pihak terkait di Kabupaten dan Provinsi guna memperhatikan dan segera tangani keadaan.
Sang guru dengan suara lantang mengungkapan apa yang terjadi dilingkungan sekolah, malah diakhir curhatnya ia mengajak para wali murid atau warga sekitar sekolah untuk menjaga lingkungan sekolah SDN Batujaya 5.
Baca Juga : Pemkab Karawang Wajib Buka Mata ! Terbongkar Sejumlah Kasus Krusial di Kecamatan Batujaya Karawang
Hj.Sri Rahayu Anggota DPRD Jawa Barat yang menerima curhatan di agenda resesnya di Desa Batujaya, Kecamatan Batujaya, Karawang mengatakan keprihatinan yang mendalam. Simak video hingga usai
" Ini sebuah fakta yang semestinya segera dibereskan karena takut berdampak buruk berkepanjangan jika dibiarkan", ucapnya.
Kemudian diungkapnya, Pemkab Karawang melalui Disdikpora dan pihak terkait lainnya harus segera turun tangan. Ini sangat miris banget disaat pendidikan kebangsaan ditekankan setelah dihampusnya sejumlah mata pelajaran yang berkaitan pendidikan karakter dan kebangsaan malah terjadi sebuah peristiwa selama tiga tahun tidak berupacara hari Senin yang sifatnya wajib. Padahal dari sana bermula diterapkan jiwa nasionalisme, disiplin ilmu, nilai kemanusian dan norma agama, sosisal, ketegasan, kebangsaan dan hal lain yang sifat mendidikan namun di SD Batujaya 5 semua malah terlewatkan begitu saja akibat sarana yang tidak terpenuhi, ungkap sesal dari Sri Rahayu dihadapan peserta reses dan awak media yang hadir di lokasi,(28/11/25).
Ia menambahkan, tujuan dan maksud upacara bendera Senin di sekolah adalah untuk menanamkan kedisiplinan, nasionalisme, dan rasa cinta tanah air pada siswa, serta meningkatkan kekompakan dan rasa tanggung jawab. Upacara ini menjadi sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, menghormati simbol negara seperti bendera Merah Putih, dan mengenang perjuangan pahlawan bangsa. Dimana dalam upacara terjadi proses penanaman kedisiplinan misal melalui baris-berbaris dan ketepatan waktu dan para siswa lewat upcara dilatih untuk memiliki sikap disiplin dan tertib.
Ini prihatin banget, kegiatan upacara bendara sejatinya adalah proses pendidikan langsung untuk meningkatkan nasionalisme melalui pengibaran bendera, pembacaan Pancasila, dan menyanyikan lagu kebangsaan demi memperkuat identitas nasional dan kecintaan terhadap bangsa malah terabaikan selama sekian tahun. Dimana dalam upacara terjadi satu peristiwa untuk memupuk rasa tanggung jawab bagi setiap siswa bisa memiliki peran, baik sebagai petugas maupun peserta, yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab jika kondisi sekolah tak terpenuhi.
Ditegaskan, sungguh sulit saat ini membangun kekompakan di era digitalisasi dan pelaksanaan upacara adalah kegiatan tepat untuk melatih para siswa untuk bekerja sama dalam satu tim. Terlebih dalam upacara juga terajarkan bagimana menghormati simbol negara. Upacara bendera adalah bentuk penghormatan terhadap bendera Merah Putih dan lagu kebangsaan sebagai simbol negara. Itu semua untuk mengingatkan perjuangan para pahlawan, upcara bendara bisa menjadi momen untuk mengingat kembali jasa para pahlawan dan membangkitkan semangat kebangsaan.
Tak hanya itu, sambung Sri Rahayu, upacara bendera bisa nembentuk karakter. Upacara bendera merupakan bagian dari program penumbuhan budi pekerti untuk membentuk karakter yang baik dan pribadi yang utuh, tandas Sri Rahayu.
Untuk kejadian ini tentunya, saya bakal meminta Pemkab Karawang segera menindaklanjutinya, pinta Sri Rahayu.
Saya juga kaget dapat temuan selevel peristiwa SDN Batujaya 5, ini sangat tak di duga maka wajib dicarikan solusinya oleh pihak terkait karena betapa pentingnya pelaksanaan upacara bendara bagi pelajar. Permalsahan ini pun dipastikan akan dibawa Komisi 1 DPRD Jabar dan diteruskan ke Pemda Karawang dan Pemprov Jabar. Semua tidak bisa biarkan saja karena bisa berdampak kurang bagus dikemudian hari. Untuk SDN Batujaya 5 sementara ini tidak menjalankan upacara bendera sangat bisa diterima karena kondisi sarana, namun bagimana jika peristiwa serupa diikuti oleh sekolah -sekolah lain tanpa alasan jelas, mau dibawa kemana dunia pendidikan Karawang, ucap Sri Rahayu, yang mempertanyakan tata kelola pendidikan dan pengawasan Disdikpora setempat.
Kemudian Sri Rahayu tegaskam, kejadian istmewa di SDN Batujaya 5 harus menjadi pembelajaran berharga bagi Pemkab Karawang jika memberikan bantuan dari rehab atau mendirikan bangunan ruang kelas baru wajib berdasarkan kebutuhan bukan kepentingan sesuatu. Tentu Disdik Karawang wajib ada evaluasi dan estimasi pasti dalam pemberian rehab jangan asal bangun atau rehab semata. Semua wajib terbagi dengan azaz rasa adil dan bijaksana pelaksananya.
Dimungkinkan akibat persoalan ini sangat serius, Komisi 1 DPRD Jabar akan segera mengundang pihak Disdikpora Karawang dan Disdik Provinsi Jabar, salah satu ingin tahu sejauhmana pengawasan ke sekolah, penataaan untuk rehab dan status kepemilikan tanah sekolah, ungkap Sri Rahayu.
Legislator asal Fraksi Golkar ini menyebut juga pihaknya menemukan adanya status tanah sekolah masih belum jelas termasuk bangunan untuk kantor desa yang berdiri di atas tanah milik warga,pungkasnya,(*)


