Perjuangan Terakhir M.H. Thamrin, dari Volksraad hingga Tahanan Rumah
JAKARTA – Mohamad Husni (M.H.) Thamrin tetap memperhatikan perjuangan nasional meski pemerintah Hindia Belanda menetapkannya sebagai tahanan rumah. Dalam kondisi sakit, ia tetap berupaya menjaga komunikasi dengan rekan-rekan seperjuangannya.
Melansir laman Kementerian Kebudayaan pada Jumat, 6 November 2026, M.H. Thamrin merupakan tokoh pergerakan nasional asal Betawi. Ia dikenal aktif memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui berbagai organisasi dan lembaga pemerintahan kolonial.
Salah satu perjuangannya dilakukan melalui Volksraad atau Dewan Rakyat. Pada 27 Januari 1930, Thamrin membentuk Fraksi Nasional untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah kolonial.
Fraksi tersebut dikenal lantang mengecam tindakan pemerintah yang menangkap para pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI). Thamrin juga mendorong organisasi Kaum Betawi bergabung dengan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).
Perjuangannya berlanjut melalui Gabungan Politik Indonesia (GAPI) yang terbentuk pada 1939. Organisasi tersebut membawa tuntutan Indonesia Berparlemen sebagai salah satu agenda perjuangan politik nasional.
Pada tahun yang sama, Thamrin mengajukan mosi agar pemerintah menggunakan istilah Indonesia dan Indonesier. Ia meminta istilah tersebut menggantikan sebutan Nederlands Indie, Nederlands Indis, dan Inlander dalam peraturan pemerintah Hindia Belanda.
Namun, pemerintah menolak usulan tersebut dengan alasan situasi sedang genting akibat Perang Dunia II. Thamrin semakin kecewa setelah pemerintah membubarkan rapat umum Parindra di Cirebon pada Februari 1940.
Ia kemudian menggugat pembubaran rapat tersebut dalam sidang Volksraad pada Maret 1940. Sikap kritisnya membuat pemerintah kolonial menganggap Thamrin sebagai sosok yang membahayakan kepentingan mereka.
Pada 6 Januari 1941, pemerintah Hindia Belanda menetapkan Thamrin sebagai tahanan rumah ketika sedang sakit. Ia tidak diperbolehkan menerima kunjungan teman-teman seperjuangannya, kecuali dokter pribadi, istri, anak angkat, dan pembantunya.
Meski berada dalam pengawasan pemerintah, Thamrin tetap mengirimkan pesan kepada rekan-rekannya secara sembunyi-sembunyi. Ia meninggal dunia pada 11 Januari 1941 pukul 03.00 pagi, tanpa sempat dijenguk teman-teman seperjuangannya.(*)
Baca Juga:

Posting Komentar