Surat Pos Terakhir Neng Mila yang Tak Pernah Sampai kepada Akang
Karawang : Tahun sembilan puluhan, Karawang belum seperti sekarang. Belum ada kawasan industri yang memanjang sampai ke pelosok, belum ada pusat perbelanjaan yang buka dua puluh empat jam, belum ada jalan tol yang membelah sawah. Karawang saat itu masih kota kecil yang tenang. Jalan utamanya masih berdebu ketika kemarau dan becek ketika hujan. Sore hari, anak-anak masih bermain layang-layang di pematang sawah yang sekarang sudah berubah menjadi pabrik.
Di kota kecil yang sederhana itulah, cinta suci itu tumbuh tanpa banyak orang tahu.
Namanya Jaka dan Neng Mila.
Mereka bukan remaja yang suka hura-hura. Mereka adalah dua anak muda yang mengikat janji sehidup semati. Janji itu tidak diucapkan di tempat mewah. Janji itu diucapkan di bawah pohon jambu air di dekat tanggul irigasi, tempat mereka biasa bertemu sepulang sekolah. Hanya ada dua es lilin yang mereka bagi berdua dan suara jangkrik di sore hari.
Jaka adalah pemuda yang keras keinginannya. Ia baru saja lulus SMA. Ijazah SMA-nya masih baru, cap stempelnya masih basah. Dengan ijazah itulah, ia memberanikan diri pergi ke Jakarta. Ia tahu betul, jika ia bertahan di Karawang pada tahun itu, ia tidak akan bisa memberikan masa depan untuk Neng Mila. Lapangan kerja di Karawang saat itu sangat terbatas. Pilihan hanya menjadi petani atau buruh harian.
"Neng, tunggu Akang di sini ya. Akang mau ke ibu kota dulu. Akang mau berusaha. Kalau Akang sudah punya kerja tetap dan sudah punya sedikit tabungan, Akang pulang. Akang akan melamar Neng," kata Jaka sambil menggenggam tangan Neng Mila erat. Matanya berkaca-kaca.
Neng Mila mengangguk pelan. Air matanya menetes, tapi senyumnya tetap ia tahan. Neng Mila adalah gadis lembut. Ia melanjutkan sekolah di salah satu sekolah keperawatan di Karawang. Setiap pagi ia memakai seragam putih-putih, rok panjang, dan kerudung putih yang sederhana. Cita-citanya tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin menjadi perawat yang bisa membantu orang sakit. Kecantikannya bukan dari bedak atau lipstik, tapi dari hati yang tulus dan tutur kata yang halus.
Sejak kepergian Jaka ke Jakarta, dimulailah kisah cinta jarak jauh yang sangat berat.
Tahun sembilan puluhan tidak ada telepon genggam di kampung. Tidak ada aplikasi pesan. Tidak ada panggilan video. Satu-satunya alat komunikasi yang ada adalah surat yang dikirim melalui tukang pos.
Setiap dua minggu sekali, Jaka menulis surat dari Jakarta. Ia menulis di atas kertas folio bergaris yang ia beli di toko buku kecil di daerah Senen. Tulisannya tidak bagus, hurufnya besar-besar, tapi setiap kalimatnya jujur. Ia bercerita tentang kerasnya hidup di ibu kota. Ia bercerita tentang kontrakannya yang sempit, satu petak dihuni tujuh orang. Ia bercerita tentang pekerjaannya yang berpindah-pindah, dari kuli angkut di pasar, menjadi kernet bus kota, sampai menjadi penjaga toko kelontong. Ia tidak pernah mengeluh, ia hanya bercerita agar Neng Mila tahu bahwa Akang di Jakarta baik-baik saja dan sedang berjuang.
Neng Mila pun membalas setiap surat itu. Balasannya selalu wangi. Ia sering menyelipkan bunga melati kering di dalam lipatan surat. Ia bercerita tentang sekolahnya. Ia bercerita tentang pelajaran merawat luka, pelajaran menyuntik, pelajaran mengukur darah. Ia juga selalu menyelipkan doa di akhir suratnya: "Semoga Akang sehat selalu di sana, jangan lupa makan, jangan lupa salat."
Tukang pos yang mengantar surat mereka menjadi saksi bisu. Pak Pos tua dengan sepeda ontelnya yang berderit itu sudah hafal betul rumah Neng Mila dan alamat kos Jaka di Jakarta. Kadang, jika Jaka tidak punya uang untuk membeli perangko, ia menitipkan suratnya melalui sopir bus jurusan Karawang-Jakarta yang ia kenal.
Lima tahun berlalu dengan cara seperti itu. Lima tahun yang tidak sebentar. Banyak teman Jaka di Jakarta yang sudah berganti pacar berkali-kali. Banyak teman Neng Mila di sekolah keperawatan yang sudah menikah dan punya anak. Tetapi Jaka dan Neng Mila tetap setia. Cinta mereka tidak berkurang sedikit pun.
Sampai pada tahun kelima, datanglah surat yang berbeda. Surat dari Jaka kali ini lebih tebal. Di dalamnya ada sebuah foto. Foto Jaka yang sudah terlihat lebih rapi, memakai kemeja putih, rambutnya disisir rapi. Ia sudah bekerja sebagai staf di sebuah toko besar di daerah Tanah Abang. Gajinya sudah cukup untuk hidup layak. Dan di dalam surat itu ada sebuah janji yang sudah lima tahun ditunggu:
"Neng Mila sayang, bulan depan Akang pulang. Kita bertemu di tempat biasa kita, di bawah pohon jambu itu ya. Akang sudah siap. Akang mau melamar Neng. Tunggu Akang, Neng."
Neng Mila menerima surat itu dengan tangan gemetar. Ia membacanya berulang-ulang. Air matanya jatuh membasahi kertas itu. Tangis bahagia. Lima tahun penantian yang panjang akhirnya akan berakhir. Ia segera membalas surat itu dengan tulisan yang gemetar karena bahagia: "Iya Kang, Neng tunggu Akang. Neng akan tunggu Akang di sini."
Tetapi takdir berkata lain.
Satu bulan sebelum pertemuan yang dijanjikan itu, Neng Mila mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Kepalanya sering pusing hebat. Badannya mudah lelah. Padahal ia tidak melakukan kerja berat. Awalnya ia mengira itu hanya karena ia kelelahan praktik di rumah sakit. Namun semakin hari, pusingnya semakin sering, badannya semakin kurus, dan hidungnya sering mengeluarkan darah tanpa sebab.
Teman-teman perawatnya mulai khawatir dan memaksanya untuk memeriksakan diri ke dokter senior di rumah sakit.
Hasil pemeriksaan itu seperti petir di siang bolong. Dokter memanggil Neng Mila dan ibunya ke ruangan khusus. Dengan suara pelan dan berat, dokter berkata bahwa Neng Mila mengidap kanker ganas. Kanker darah stadium akhir yang sudah menyebar cepat.
Dunia Neng Mila seketika runtuh. Ia masih sangat muda. Ia baru berusia dua puluh dua tahun. Ia baru akan bertemu dengan Akang. Ia baru akan dilamar. Ia baru akan mewujudkan semua mimpi yang ia rajut bersama Akang selama lima tahun.
Ia tidak ingin Akang tahu. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan Akang yang sudah bersusah payah berjuang di Jakarta. Ia tidak ingin Akang melihatnya dalam keadaan sakit dengan rambut rontok dan tubuh kurus. Maka ia membuat keputusan yang sangat berat: ia memilih diam. Ia tidak lagi membalas surat Akang. Ia meminta ibunya untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun, termasuk kepada Pak Pos yang biasa mengantar surat.
Setiap hari kondisinya menurun drastis. Rambutnya yang hitam dan panjang, yang dulu selalu dipuji Akang, rontok sedikit demi sedikit akibat kemoterapi. Tubuhnya yang dulu berisi kini hanya tinggal tulang berbalut kulit. Tetapi di dalam hatinya, hanya ada satu nama yang terus ia sebut: Akang.
Pada minggu-minggu terakhir hidupnya, ia sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur rumah sakit. Di bawah bantalnya, ia masih menyimpan foto Akang dan surat terakhir Akang yang berjanji akan pulang bulan depan. Bibirnya yang pucat masih berbisik pelan: "Kang, maafkan Neng ya, Neng tidak bisa menunggu Akang."
Dan pada suatu subuh yang dingin dan sepi, Neng Mila mengembuskan napas terakhirnya. Ia wafat di rumah sakit yang sama tempat ia dulu belajar menjadi perawat. Ia pergi dengan tenang, dengan surat cinta dari Akang masih tergenggam erat di tangannya.
Jaka sama sekali tidak mengetahui semua itu. Di Jakarta, ia sedang menghitung hari dengan penuh semangat. Ia sudah membeli sebuah cincin perak murah di Pasar Senen. Ia sudah membeli baju koko baru untuk melamar. Ia sudah membeli tiket bus Karawang. Hatinya penuh bunga. Ia membayangkan pertemuan di bawah pohon jambu. Ia membayangkan Neng Mila yang akan berlari dengan seragam perawat putihnya dan memeluknya.
Bus yang ia tumpangi tiba di Karawang pagi hari. Udara Karawang masih sama seperti dulu, masih ada bau sawah dan angin sejuk. Jaka turun dari bus dengan langkah cepat. Ia langsung menuju rumah Neng Mila dengan cincin di saku dan foto di tangan.
Tetapi rumah Neng Mila sepi. Pintu depannya tertutup rapat. Tidak ada suara aktivitas. Jaka mengetuk pintu dengan jantung berdebar. Yang membukakan pintu adalah ibu Neng Mila. Wajah ibu itu pucat, matanya bengkak karena sudah berhari-hari menangis.
"Jaka..." hanya kata itu yang keluar dari mulut ibu itu, lalu ia langsung memeluk Jaka dan menangis keras.
Jaka bingung. "Bu, di mana Neng Mila? Saya sudah janji mau ketemu Neng Mila hari ini. Katanya mau ketemu di bawah pohon jambu. Mana Neng Mila, Bu?"
Ibu Neng Mila tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggandeng tangan Jaka dengan lemah dan membawanya berjalan ke belakang rumah, ke sebuah pemakaman keluarga yang kecil. Di sana, ada sebuah gundukan tanah merah yang masih basah, masih baru. Di atasnya ada nisan kayu sederhana yang bertuliskan dengan cat putih: NENG MILA BINTI H. SARTI - WAFAT 1995.
Hanya pusara yang menunggu.
Dunia Jaka seketika gelap. Lututnya lemas. Ijazah, cincin, baju baru, semua yang ia bawa dari Jakarta jatuh ke tanah. Ia tersungkur di depan gundukan tanah merah itu. Ia tidak peduli bajunya kotor oleh tanah. Ia memeluk nisan kayu itu erat-erat.
"Neng Mila... Neng... kenapa Neng tidak tunggu Akang... Akang sudah pulang, Neng... Akang sudah pulang mau melamar Neng... Neng Mila..."
Tangis Jaka pecah di pemakaman yang sepi itu. Tangis seorang laki-laki yang selama lima tahun menahan rindu, menahan lapar, menahan hinaan di Jakarta, hanya untuk hari ini. Tetapi hari ini, orang yang paling ia cintai sudah tidak ada. Hanya tanah merah yang bisa ia peluk.
Pak Pos tua yang kebetulan lewat dengan sepedanya, berhenti. Ia melihat Jaka menangis di depan pusara Neng Mila. Pak Pos itu tahu betul betapa setianya dua anak muda ini. Ia pun ikut meneteskan air mata.
Sejak hari itu, Jaka tidak pernah kembali ke Jakarta. Ia memilih tinggal di Karawang. Setiap sore, tanpa pernah absen, ia datang ke pusara Neng Mila. Ia membersihkan rumput liar, ia menabur bunga melati, ia duduk berjam-jam di sana dan bercerita seperti dulu ia bercerita melalui surat. Ia bercerita tentang hari ini, tentang pekerjaannya, tentang betapa ia merindukan Neng Mila.
Ia tidak pernah menikah sampai hari ini. Bagi Jaka, janji sehidup semati itu masih ia pegang teguh. Jika tidak bisa sehidup bersama Neng Mila, biarlah ia sehidup dalam kesetiaan untuk Neng Mila.
Cinta seperti Jaka dan Neng Mila mungkin sudah sangat langka di zaman sekarang, di mana cinta diukur dengan jumlah like dan pesan singkat. Tetapi di tahun sembilan puluhan, cinta diukur dengan kesetiaan menunggu tukang pos dan keberanian memegang janji sampai mati.
Dan Jaka percaya, di pintu surga nanti, ia akan kembali bertemu dengan Neng Mila. Neng Mila dengan seragam perawat putihnya, dengan senyum tulusnya, sedang menunggunya di bawah pohon jambu yang abadi.(Red)

