Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Subsidi Jebol Rp750 T, Bahlil Pastikan Harga BBM Tetap

Jakarta :  Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah belum akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) meskipun harga minyak mentah dunia meningkat dan beban subsidi energi membengkak. Keputusan tersebut mempertimbangkan dampak kenaikan harga BBM terhadap kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia
Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia

"Tapi saya berkonsultasi dengan Bapak Presiden, saya katakan Bapak Presiden, memang secara ideal itu harus kita naikkan. Tetapi Partai Golkar berkomitmen untuk dalam kondisi seperti sekarang, belum waktunya untuk kita naikkan harga BBM," kata Bahlil di Jakarta, Selasa, 20 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sejak Januari hingga Oktober telah mencapai 91–92 dolar AS per barel. Angka tersebut berada di atas asumsi APBN yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.

Menurut Bahlil, kondisi tersebut turut meningkatkan kebutuhan subsidi BBM. Ia menyebut nilai subsidi yang dibutuhkan saat ini mencapai sekitar Rp730 triliun hingga Rp750 triliun, sedangkan asumsi dalam APBN berada di kisaran Rp500 triliun.

"Di sektor BBM, alhamdulillah atas arahan Bapak Presiden, sekalipun sekarang rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan Oktober sekarang itu sudah mencapai 91 sampai 92 dolar per barel. Padahal di APBN itu 70 dolar. Sekarang harga subsidi kita itu sudah mencapai Rp730 sampai Rp750 triliun, dari asumsi APBN hampir kurang lebih kita Rp500," jelas Bahlil.

Berdasarkan pertimbangan ekonomi, penyesuaian harga BBM dapat menjadi salah satu pilihan untuk merespons kenaikan harga minyak dunia. Namun, kata Bahlil, pemerintah perlu memperhitungkan dampak berantai yang dapat ditimbulkan apabila harga BBM dinaikkan.

"Karena kalau itu kita naikkan itu berdampak ke mana-mana," ujarnya.

Oleh karena itu, pemerintah berupaya mencari alternatif sumber pendapatan untuk menjaga keberlanjutan subsidi tanpa harus menaikkan harga BBM dalam kondisi saat ini.

"Tapi Bapak Presiden karena alumni Partai Golkar, memerintahkan juga kepada saya, 'Kalau kamu tidak mau naikkan, carikan sumber pendapatan tambahan untuk menutupi defisit daripada penambahan subsidi'. Ya karena kita otaknya pedagang, ya terpaksa lah kita mainkan barang itu," pungkasnya.(BK).

Hide Ads Show Ads