Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Kreatif! Supriadi Sulap Sisa Kulit Sintetis Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Karawang

KARAWANG – Kreativitas mampu mengubah sesuatu yang dianggap tidak bernilai menjadi produk bernilai ekonomi. Hal inilah yang dilakukan Supriadi, pelaku usaha kreatif asal Karawang, Jawa Barat, yang menyulap sisa material industri kulit sintetis menjadi berbagai produk kriya bernilai jual, mulai dari tas, topi koboi hingga aksesori fesyen.
Kreatif! Supriadi Sulap Sisa Kulit Sintetis Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Karawang

Melalui usaha Karrasi 19, Supriadi membuktikan bahwa limbah industri dapat menjadi peluang usaha sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular. Material sisa produksi jok kendaraan yang sebelumnya tidak terpakai kini diolah menjadi produk dengan desain dan fungsi baru.

Usaha tersebut mulai dirintis saat pandemi Covid-19. Berbekal kreativitas dan keberanian mencoba, Supriadi mengembangkan produk berbahan kulit sintetis daur ulang hingga berhasil memasarkan puluhan ribu produk kepada konsumen.

“Bahan dasarnya berasal dari sisa potongan industri yang sudah tidak terpakai. Kami mencoba mengolahnya kembali menjadi barang yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Supriadi, pemilik sekaligus pendiri Karrasi 19, Sabtu (31/10/2026).

Dalam menjalankan produksinya, Karrasi 19 memanfaatkan sekitar 500 kilogram hingga satu ton material sisa industri setiap bulan. Bahan baku tersebut diperoleh dari sejumlah industri di kawasan Karawang.

Dari material tersebut, Supriadi mengembangkan berbagai produk unggulan. Salah satu produk yang menjadi identitas usahanya adalah topi koboi, selain tas dan sling bag dengan karakter bahan yang diklaim memiliki ketahanan terhadap air dan panas.

Untuk memperkenalkan kualitas produknya, Supriadi bahkan melakukan demonstrasi langsung saat mengikuti pameran. Pengunjung dapat melihat pengujian ketahanan bahan sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan konsumen.

Kreatif! Supriadi Sulap Sisa Kulit Sintetis Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Karawang

“Kami tidak hanya menjelaskan kualitas produk, tetapi juga memperlihatkannya secara langsung kepada calon pembeli. Dengan begitu, konsumen bisa mengetahui karakter dan ketahanan material yang kami gunakan,” jelasnya.

Upaya tersebut turut membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Karrasi 19 tidak hanya mengandalkan penjualan langsung dan lokapasar, tetapi juga mulai menjajaki pasar internasional melalui pengiriman sampel dan kerja sama dengan jaringan agregator.

Sejumlah negara yang menjadi tujuan penjajakan pasar antara lain Qatar, Kazakhstan, Irlandia, Jerman, dan Belanda. Bahkan, pada 2026, Karrasi 19 mulai mengerjakan pesanan untuk pasar Nigeria.

Perkembangan usaha tersebut juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Saat ini, Karrasi 19 mempekerjakan sekitar sepuluh karyawan tetap yang berasal dari berbagai wilayah di Kabupaten Karawang.

Untuk memperluas jangkauan pemasaran, Supriadi mengembangkan pendekatan penjualan melalui sistem KDK atau Karrasi Direct Selling Kreatif. Metode tersebut mengedepankan silaturahmi, edukasi, promosi, hingga transaksi dengan calon konsumen.

“Bagi kami, membangun usaha bukan hanya mengejar penjualan. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi bahwa bahan yang sebelumnya dianggap limbah ternyata masih bisa diolah menjadi produk yang bermanfaat,” ungkap Supriadi.

*Kolaborasi Buka Peluang Pasar*

Pengembangan Karrasi 19 juga mendapat dukungan dari ekosistem ekonomi kreatif daerah. Bersama Forum Ekonomi Kreatif Karawang, produk tersebut memperoleh kesempatan untuk diperkenalkan dalam Rapat Koordinasi Nasional Indonesia Creative Cities Network (ICCN) melalui kegiatan Indonesia Creative Connect 2026 pada 25 Oktober 2026.
Kreatif! Supriadi Sulap Sisa Kulit Sintetis Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Karawang

Wakil Ketua Forum Ekraf Karawang, Luthfi Ansori, mengatakan kolaborasi lintas komunitas menjadi langkah untuk memperkenalkan produk unggulan daerah.

“Kami berkolaborasi dengan Dekranasda dan berbagai komunitas untuk mendorong produk unggulan daerah, termasuk subsektor kriya, seni rupa, dan lukisan. Karrasi 19 menjadi salah satu produk yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan hingga pasar internasional,” kata Luthfi.

Manfaat kolaborasi tersebut turut dirasakan Supriadi. Setelah acara selesai, sejumlah pelaku usaha dari Sulawesi, Jawa Timur, hingga Batam masih menghubungi dan memesan produk.

Inovasi tersebut juga menarik perhatian Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Dukungan diarahkan pada upaya membuka akses yang lebih mudah terhadap bahan baku sisa industri.

*Dukungan Ekosistem Perkuat Daya Saing UMKM*

Di Jawa Barat, Bank Indonesia turut mendorong pengembangan UMKM melalui Sunda Karsa Fest: Karya Kreatif Jawa Barat 2026 yang berlangsung di Bandung pada 26–28 Juni 2026, dengan 260 stan dari 27 kabupaten/kota.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, menekankan pentingnya sinergi.

“Penguatan kapasitas pelaku usaha, perluasan akses pasar dan pembiayaan, percepatan digitalisasi, serta peningkatan daya saing UMKM harus terus didorong melalui kolaborasi yang berkelanjutan,” ujar Junanto.

Ke depan, Supriadi berencana menjalin kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk riset, pengembangan desain, serta pengujian kualitas produk.

“Jangan mudah patah semangat. Terus berjuang dan mulai dari langkah kecil. Karena dari langkah kecil itulah kita bisa menghasilkan dampak yang lebih besar,” pesannya.(*)

Hide Ads Show Ads