Iran Perkuat Terowongan Nuklir di Bawah Gunung
Citra Satelit Ungkap Penguatan Infrastruktur Bawah Tanah di Tengah Ketegangan Nuklir
Iran : Analisis terbaru terhadap citra satelit mengungkapkan bahwa Iran secara intensif memperkuat kompleks bawah tanah di dekat fasilitas nuklir utamanya.
Langkah ini memicu kekhawatiran global di saat diplomasi antara Teheran dan Washington berada di titik kritis.
Berdasarkan data yang dianalisis oleh Institute for Science and International Security (ISIS), aktivitas konstruksi terlihat jelas di Gunung Kolang Gaz La, atau yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe.
Menunjukkan penguatan pada pintu masuk terowongan menggunakan beton segar, mengindikasikan upaya Iran untuk melindungi aset strategisnya dari potensi serangan udara.
Benteng di Balik Gunung
Para ahli intelijen mencatat kehadiran alat berat, termasuk pompa beton, di lokasi tersebut pada pertengahan Februari 2026.
Meski tujuan spesifik fasilitas ini belum terverifikasi, para analis menduga situs tersebut dirancang untuk melindungi aktivitas pengayaan uranium atau penyimpanan peralatan nuklir sensitif.
"Ukuran fasilitas serta perlindungan alami dari gunung yang tinggi memicu kekhawatiran akan adanya aktivitas sensitif tambahan di masa depan," tulis laporan ISIS yang di kutip BBC News.
Langkah defensif ini tidak hanya terjadi di Gunung Pickaxe. Laporan serupa menunjukkan adanya perbaikan dan penguatan pertahanan di situs nuklir Natanz serta kompleks Isfahan.
Di Isfahan, citra satelit menunjukkan bahwa akses masuk terowongan kini telah ditutup dengan tanah dan atap pelindung guna menghindari pantauan udara.
Respons Terhadap Tekanan Global
Aktivitas ini berlangsung di bawah bayang-bayang ketegangan pasca-konflik singkat pada Juni 2025.
Saat itu, Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan terhadap tiga lokasi bawah tanah Iran. Meskipun Trump mengklaim kapasitas pengayaan Iran telah "hancur," aktivitas terbaru ini menunjukkan upaya Teheran untuk membangun kembali infrastrukturnya.
Profesor Sina Azodi dari George Washington University menilai langkah Iran ini sebagai strategi antisipasi. "Iran beroperasi di bawah asumsi bahwa serangan akan kembali terjadi. Begitu Anda memiliki pengetahuan dan kapasitas teknologi, Anda akan selalu bisa membangun kembali segalanya," ujar Azodi.
Meningkatnya aktivitas militer dan konstruksi, komunitas internasional terus mendorong solusi melalui meja perundingan.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menekankan pentingnya kesepakatan nuklir baru.
Dalam wawancaranya dengan BBC di Konferensi Keamanan Munchen, Grossi memperingatkan bahwa peluang untuk berdiplomasi sangat terbatas.
"Kita memiliki jendela kesempatan, namun jendela tersebut cenderung menutup secara tiba-tiba. Kita harus memanfaatkan momen ini," tegas Grossi.
Hingga saat ini, Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai, meskipun laporan intelijen menyebutkan adanya cadangan uranium yang diperkaya mendekati tingkat senjata di lokasi-lokasi bawah tanah yang sulit dijangkau.(*)
