Hari ini
Cuaca 0oC
Headline News :

Singapura Puncaki Investasi Hilirisasi Indonesia 2025

Jakarta: Realisasi sektor hilirisasi melonjak 43,3 persen dengan total nilai investasi mencapai Rp584,1 triliun.

Foto:Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden

Peta investasi sektor hilirisasi di Indonesia mengalami pergeseran signifikan sepanjang tahun 2025. Singapura secara mengejutkan menggeser posisi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagai investor asing terbesar dalam proyek penguatan nilai tambah industri di tanah air.

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total realisasi investasi di sektor hilirisasi selama periode Januari hingga Desember 2025 menembus angka Rp584,1 triliun. Capaian ini mencerminkan pertumbuhan pesat sebesar 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa porsi hilirisasi terhadap total investasi nasional terus menunjukkan tren positif.

"Kami memberikan sorotan khusus pada sektor hilirisasi karena trennya terus meningkat. Jika sebelumnya kontribusi hilirisasi berada di angka 25 persen, kini telah naik menjadi 30,2 persen dari total realisasi investasi tahunan," ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 15 Januari 2026.

Dominasi Modal Asing dan Pergeseran Peringkat

Menteri Investasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani (Foto:Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden)

Data kementerian menunjukkan bahwa modal asing masih menjadi mesin utama penggerak hilirisasi di Indonesia. Sebanyak 73,5 persen atau setara Rp429,6 triliun berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA), sementara kontribusi domestik (PMDN) tercatat sebesar Rp154,5 triliun.

Secara mengejutkan, Singapura menduduki posisi pertama dengan nilai komitmen mencapai US$7,9 miliar. 

Posisi tersebut diikuti oleh Hong Kong dengan US$6,2 miliar, sementara Tiongkok daratan berada di peringkat ketiga dengan nilai investasi sebesar US$4,8 miliar. Malaysia dan Amerika Serikat melengkapi daftar lima besar dengan masing-masing US$3 miliar dan US$1,6 miliar.

Diversifikasi Sektor: Melampaui Tambang dan Mineral

Meskipun sektor mineral masih mendominasi dengan realisasi Rp373,1 triliun, pemerintah mulai mencatat adanya diversifikasi ke sektor non-tambang yang lebih banyak menyerap tenaga kerja, seperti perkebunan, kehutanan, dan perikanan.

Rosan menjelaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah mendorong hilirisasi agar tidak hanya bertumpu pada sumber daya mineral, tetapi juga meluas ke sektor komoditas laut dan perkebunan.

"Menariknya, saat ini sektor laut sudah mulai masuk, termasuk hilirisasi ikan tuna, cakalang, hingga tongkol. 

Kami mendorong ini karena meski investasinya mungkin tidak sebesar mineral, sektor seperti perkebunan mampu menciptakan lapangan kerja yang jauh lebih masif," tambahnya.

Transfer Teknologi sebagai Syarat Utama

Terkait dominasi modal asing dalam industri mineral, Rosan menyebut hal tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan teknologi tinggi yang belum sepenuhnya dikuasai di dalam negeri. 

Namun, pemerintah telah menerapkan kebijakan insentif baru yang mewajibkan adanya transfer pengetahuan (transfer of knowledge).

Ada perusahaan global yang kini mulai memindahkan pusat riset dan pengembangan (R&D) mereka ke Indonesia, bahkan menyerahkan hak paten di bidang pengolahan mineral kepada kita. Salah satu yang akan segera terealisasi tahun ini adalah di bidang teknologi daur ulang (recycle)," pungkasnya.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads