Pemerintah Pacu Gen Z Kuasai Gig Economy
Sleman, Yogyakarta; Program pelatihan nasional diluncurkan untuk mencetak talenta digital baru sebagai motor penggerak ekonomi masa depan Indonesia.
Pemerintah Indonesia secara resmi mempercepat penguatan ekosistem ekonomi digital dengan menyasar generasi muda sebagai pilar utama pertumbuhan nasional.
Melalui serangkaian program pelatihan khusus, pemerintah berupaya menjembatani kesenjangan antara potensi bonus demografi dan kebutuhan industri yang kian kompetitif.
Transformasi digital saat ini dinilai bukan lagi sekadar tren, melainkan mesin baru bagi perekonomian (New Economy Engine).
Sektor-sektor kreatif mulai dari pengembangan gim, animasi, hingga platform berbasis kecerdasan buatan (AI) kini menjadi fokus utama dalam penciptaan lapangan kerja baru yang inklusif.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, menegaskan bahwa integrasi teknologi digital, khususnya AI, diproyeksikan mampu menyumbang hingga 20 persen bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sektor digital merupakan wilayah pertumbuhan yang saat ini bisa kita akselerasi bersama. Menko Airlangga telah merancang sumber pertumbuhan yang terbukti mampu melampaui capaian sektor konvensional," ujar Ali dikutip sabtu 17 Januari 2026.
Strategi Menghadapi Tantangan Ketenagakerjaan
Meski Indonesia memiliki lebih dari 74 juta penduduk kategori Gen Z, tantangan besar muncul dari keterbatasan sektor formal dan ketidaksesuaian keterampilan (mismatch) dengan kebutuhan pasar.
Merespons hal tersebut, pemerintah merumuskan Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) 2025 yang berfokus pada lima program penyerapan tenaga kerja.
Salah satu inisiatif strategis adalah penguatan ekosistem gig economy. Program ini tidak hanya menawarkan fleksibilitas kerja, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan teknis yang relevan dengan kebutuhan industri global.
Ekspansi Nasional dan Peran AI
Target ambisius telah ditetapkan, di mana program ini rencananya akan menyasar 15 kota di seluruh Indonesia. Pemerintah menargetkan partisipasi hingga 3.000 peserta setiap bulannya untuk memperluas jangkauan dampak pelatihan.
Terkait kekhawatiran mengenai disrupsi teknologi, Ali Murtopo menjelaskan bahwa kehadiran AI justru memerlukan peran manusia dalam pengolahan struktur data.
"AI tetap membutuhkan tenaga kerja manusia sebagai pengolah data dasar. Struktur data itulah yang nantinya diolah menjadi solusi teknologi," tambahnya.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah juga akan meluncurkan AI Open Innovation Challenge pada Februari 2026. Kompetisi ini bertujuan untuk:
• Idea Pool : Menampung inovasi dan gagasan kreatif dari generasi muda.
• Talent Pool : Memetakan bakat-bakat digital potensial di seluruh daerah.
• Smart Industry : Mendorong efisiensi pada sektor manufaktur dan kawasan industri melalui teknologi pintar.
Pelatihan di Yogyakarta ini merupakan bagian dari rangkaian pilot project yang telah dimulai di Jakarta pada akhir tahun lalu.
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah dan adaptivitas Gen Z, Indonesia optimis dapat mengoptimalkan ekonomi digital sebagai fondasi kemajuan bangsa di masa depan.(*)


