Menag: Kemajuan AI dan Teknologi Harus Diiringi Nilai Agama
PASURUAN: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya menyelaraskan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai agama sebagai landasan moral dalam membangun peradaban.
Menurut Nasaruddin, penguasaan teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI) harus tetap diiringi nilai spiritual agar kemajuan membawa manfaat bagi kemanusiaan.
Pesan tersebut disampaikannya dalam orasi ilmiah di Universitas Yudharta Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (10/10/2026). Ia mengajak mahasiswa memahami makna perintah Iqra sebagai wahyu pertama sekaligus simbol pentingnya ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam.
“Kalau kita tidak bisa memahami latar belakang sejarah peradaban umat manusia, kita tidak bisa memahami apa makna hakikat dari Iqra,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, Iqra selain bermakna membaca juga merepresentasikan semangat penelitian dan pengembangan pemikiran. Hal itu diperkuat ayat _Nun wal-qalami wa ma yasturun_ yang mengangkat pena dan aktivitas menulis sebagai simbol tradisi keilmuan.
“Ini satu bukti bahwa Islam itu menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Tidak boleh memasung perkembangan pemikiran, tidak boleh memenjarakan ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Nasaruddin menjelaskan, hubungan agama dan ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban mengalami dinamika. Pembatasan kebebasan berpikir dapat menghambat perkembangan ilmu, sementara kemajuan teknologi tanpa landasan moral berisiko kehilangan arah.
Dalam konteks teknologi modern, ia mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan ilmu, termasuk AI, tanpa meninggalkan nilai spiritual.
“Boleh mencari ilmu pengetahuan, boleh melakukan eksperimen, boleh melakukan penelitian setinggi-tingginya, apakah itu AI sekarang ini, artificial intelligence, tetapi jangan lupa Bismillahirrahmanirrahim,” pesannya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa perguruan tinggi keagamaan agar tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi turut mengembangkan kompetensi teknologi.
“Ananda jangan hanya pintar ilmu agama, tetapi juga bisa memainkan program sistem komputer,” ujarnya.
Menurut dia, perpaduan kompetensi keagamaan dan penguasaan teknologi menjadi bekal penting bagi lulusan perguruan tinggi keagamaan untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Justru perguruan tinggi yang suasananya agama ini yang akan dibutuhkan di masa depan,” pungkasnya.(*)

