Tes Duduk-Berdiri Sederhana Bisa Ukur Kebugaran Tubuh, Begini Caranya
Karawang : Ada cara sederhana untuk mengetahui gambaran kebugaran tubuh tanpa menggunakan alat khusus. Sitting-Rising Test (SRT) dapat dilakukan di rumah hanya dengan duduk di lantai kemudian berdiri kembali dengan bantuan sesedikit mungkin.
Tes ini menilai kemampuan tubuh melakukan gerakan duduk dan berdiri sekaligus menggambarkan sejumlah aspek kebugaran fisik, seperti kekuatan otot, keseimbangan, fleksibilitas dan koordinasi.
Melansir Everyday Health, Minggu (13/9/26), kemampuan melakukan SRT juga dalam penelitian dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular maupun penyebab alami lainnya.
Untuk mencobanya, pastikan terlebih dahulu berada di permukaan lantai yang datar dan tidak licin. Tes dilakukan tanpa alas kaki untuk membantu menjaga pijakan.
Mulailah dengan berdiri tegak, kemudian posisikan kedua tangan lurus ke depan. Setelah itu, silangkan kedua kaki dan perlahan turunkan tubuh hingga duduk di lantai dengan menggunakan bantuan sesedikit mungkin.
Selanjutnya, dari posisi duduk, cobalah berdiri kembali dengan posisi kaki tetap menyilang. Usahakan tidak menggunakan tangan, lengan bawah maupun lutut sebagai penopang dan lakukan gerakan tanpa kehilangan keseimbangan.
Dalam SRT, gerakan duduk dan berdiri masing-masing memiliki nilai maksimal lima poin sehingga total skor tertinggi adalah 10.
Satu poin dikurangi setiap kali menggunakan tangan, lengan bawah atau lutut sebagai penopang. Sementara itu, setengah poin dikurangi apabila tubuh terlihat tidak stabil atau kehilangan keseimbangan.
Dengan demikian, seseorang yang mampu duduk dan berdiri kembali secara sempurna tanpa bantuan akan mendapatkan skor 10. Semakin rendah skor, semakin banyak bantuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan gerakan tersebut.
Tes ini dikembangkan pada akhir 1990-an oleh Claudio Gil Araújo, dokter sekaligus dekan penelitian di Rio de Janeiro, Brasil.
“Saya menyadari bahwa kebugaran aerobik tidak hanya penting untuk kesehatan, tetapi juga apa yang saya sebut kebugaran non-aerobik,” ujar Araújo.
Berbeda dengan tes kebugaran aerobik yang mengukur kemampuan tubuh melalui aktivitas seperti berlari atau bersepeda, SRT lebih menitikberatkan pada kemampuan fisik non-aerobik.
Ahli terapi fisik Amy Pastva menjelaskan, gerakan dalam SRT membutuhkan beberapa kemampuan fisik secara bersamaan. Kekuatan otot kaki diperlukan untuk membantu tubuh bangkit dari posisi rendah, sedangkan fleksibilitas membuat tubuh mampu bergerak dengan lebih leluasa.
Selain itu, keseimbangan dan koordinasi juga diperlukan agar gerakan duduk maupun berdiri dapat dilakukan secara stabil.
Penelitian terhadap lebih dari 4.000 orang berusia 46 hingga 75 tahun kemudian menemukan adanya hubungan antara skor SRT dan risiko kematian selama masa pemantauan sekitar 12 tahun.
Peserta dengan skor 10 tercatat memiliki angka kematian sekitar 3,7 persen. Angka tersebut meningkat menjadi 11,1 persen pada peserta dengan skor 8 dan mencapai 42,1 persen pada kelompok yang memperoleh skor 4 atau lebih rendah.
Setelah memperhitungkan faktor usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh dan kondisi kesehatan yang telah ada, peserta dengan skor 0 hingga 4 tercatat memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung sekitar enam kali lebih tinggi dan risiko kematian akibat penyebab alami sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan peserta dengan skor sempurna.
Meski demikian, SRT bukan alat diagnosis penyakit dan skor rendah tidak secara otomatis berarti seseorang akan mengalami penyakit tertentu. Tes ini lebih tepat dipandang sebagai gambaran kemampuan fisik yang dapat menjadi perhatian untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh.(*)
