Iran Tunda Pemakaman Khamenei di Tengah Serangan
Teheran ; Otoritas Teheran menunda prosesi persemayaman di tengah gempuran udara Amerika Serikat dan Israel yang kian intensif
![]() |
| Kondisi kompleks Grand Mosalla tempat yang akan digunakan sebagai upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei (Foto: BBC News) |
Pemerintah Iran mengumumkan penundaan upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang sedianya dimulai pada Rabu 4 Maret 2026 malam waktu setempat.
Penundaan ini terjadi saat pasukan Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan udara masif ke berbagai wilayah di negara tersebut.
Kepala Dewan Koordinasi Propaganda Islam Provinsi Teheran, Seyyed Mohsen Mahmoudi, mengonfirmasi kepada kantor berita Tasnim bahwa prosesi di kompleks Grand Mosalla akan dijadwalkan ulang hingga "waktu yang lebih tepat."
"Keputusan ini diambil karena besarnya permintaan masyarakat yang ingin hadir serta perlunya persiapan fasilitas infrastruktur yang memadai untuk menampung massa," ujar Mahmoudi.
Transisi Kekuasaan di Tengah Perang
Di tengah kekosongan kepemimpinan, Majelis Ahli Iran menyatakan bahwa mereka sudah "hampir" menetapkan pengganti Khamenei. Mendiang dilaporkan tewas dalam serangan gelombang pertama pada Sabtu lalu di kediamannya di Teheran.
Ayatollah Ahmad Khatami, anggota Majelis Ahli, menyatakan kepada televisi pemerintah bahwa kandidat telah diidentifikasi. "Pemimpin Tertinggi akan ditetapkan dalam kesempatan terdekat. Kami sudah mendekati kesimpulan, namun situasi negara saat ini dalam kondisi perang," ungkapnya.
Sumber internal kepada BBC News menyebutkan bahwa putra Khamenei, Mojtaba Khamenei (56), menjadi kandidat kuat. Sosok ulama yang dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) ini dianggap memiliki pengaruh signifikan dalam peta politik Iran.
Eskalasi Militer di Kawasan
Konflik ini juga meluas ke wilayah perairan. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi bahwa kapal selam AS telah menenggelamkan kapal fregat Angkatan Laut Iran, Iris Dena, di Samudra Hindia.
"Kapal perang itu mengira mereka aman di perairan internasional. Sebaliknya, ia ditenggelamkan oleh torpedo. Kematian yang sunyi," tegas Hegseth kepada wartawan. Sekretaris Pertahanan Sri Lanka melaporkan 80 jenazah telah ditemukan, sementara 32 orang lainnya berhasil diselamatkan Kutip BBC News.
Hegseth menambahkan bahwa pasukan koalisi akan mencapai superioritas udara penuh atas Iran dalam hitungan hari. Namun, pernyataan ini mendapat kecaman dari Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, yang menuding Presiden Donald Trump telah "menyeret rakyat Amerika ke dalam perang yang tidak adil."
Dampak Kemanusiaan dan Reaksi Regional
Serangan balasan Iran berupa drone dan rudal juga dilaporkan mengenai negara-negara Teluk. Di Kuwait, Kementerian Kesehatan melaporkan seorang gadis berusia 11 tahun tewas akibat serpihan rudal yang jatuh di area pemukiman.
Sementara itu, Qatar secara tegas menolak klaim Iran bahwa serangan mereka hanya menargetkan kepentingan AS. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, memperingatkan bahwa tindakan Teheran berisiko menyeret negara tetangga ke dalam konflik yang bukan milik mereka.
Berdasarkan data dari kantor berita Irna, tercatat 1.045 personel militer dan warga sipil tewas sejak awal konflik. Namun, lembaga Human Rights Activists News Agency (HRNA) yang berbasis di AS melaporkan angka kematian warga sipil yang lebih tinggi, yakni mencapai 1.097 jiwa, termasuk 181 anak-anak.(*)

