Harga Pangan Gaza Melambung Akibat Penutupan Perbatasan
Gaza ; Eskalasi konflik regional memicu kelangkaan bahan pokok dan krisis kemanusiaan di Gaza.
![]() |
| Warga Palestina di pengungsian berdesakan mengantre makanan di sebuah bank makanan di Khan Younis, Gaza selatan, pada 6 Maret 2026. [Foto: AFP/Bashar Taleb] |
Masyarakat di Jalur Gaza kembali berbondong-bondong memadati pasar untuk mengamankan stok pangan yang tersisa.
Kekhawatiran akan terputusnya jalur logistik meningkat seiring eskalasi konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung pada rapuhnya jalur bantuan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Sejumlah warga dan pedagang melaporkan bahwa harga kebutuhan pokok melonjak drastis hanya dalam hitungan hari. Beberapa komoditas penting bahkan dilaporkan mulai menghilang dari peredaran.
"Eskalasi terbaru ini dirasakan secara langsung melalui berkurangnya pasokan dan pengetatan akses di pintu-pintu perbatasan," ujar Hani Mahmoud dari Al Jazeera melaporkan dari Gaza City.
Di pasar-pasar lokal, warga berupaya membeli apa pun yang mereka mampu sebelum stok habis, didorong ketakutan bahwa barang yang tersedia hari ini mungkin tidak akan ada lagi esok hari.
Ketergantungan Jalur Logistik
Kondisi ini mencerminkan ketergantungan kritis Gaza terhadap pintu perbatasan dengan Israel dan Mesir.
Hampir seluruh kebutuhan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan masuk melalui truk. Ketika akses tersebut ditutup atau kapasitasnya dikurangi, dampaknya segera melumpuhkan pasar, rumah sakit, hingga sistem pengairan.
Israel sempat menutup perbatasan pada 28 Februari menyusul konfrontasi militer dengan Iran, yang menghentikan total akses bantuan dan evakuasi medis. Meski pintu perbatasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) kemudian dibuka kembali secara bertahap, aksesnya tetap dibatasi secara ketat. Sementara itu, pintu perbatasan Rafah dengan Mesir masih tertutup.
Hanan Balkhy, Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Mediterania Timur, menyatakan kepada Reuters bahwa saat ini hanya sekitar 200 truk per hari yang memasuki Gaza. Angka ini jauh dari kebutuhan ideal sebanyak 600 truk per hari untuk menopang populasi di wilayah tersebut.
Lonjakan Harga di Pasar Lokal
Di lapangan, dampak ekonomi sangat terasa pada komoditas bahan pangan segar. Harga satu kilogram tomat yang bulan lalu dijual seharga $1,50 kini mendekati $4.
Kenaikan serupa terjadi pada mentimun dan kentang, membuat makanan segar tidak lagi terjangkau bagi keluarga yang pendapatannya telah hancur akibat perang selama berbulan-bulan.
"Masyarakat tidak lagi mampu membeli sayur dan buah karena tingginya harga akibat perang antara Israel dan Iran," ungkap salah satu pembeli kepada Al Jazeera.
Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA) mengonfirmasi bahwa penutupan perbatasan dalam konteks eskalasi regional telah meningkatkan harga barang pangan maupun non-pangan di seluruh Gaza.
"Laju masuknya truk saat ini terlalu rendah untuk mendukung pengisian ulang stok, menyebabkan banyak barang habis dalam hitungan hari," tulis laporan OCHA pada 6 Maret.
Tekanan Sistem Bantuan
Tekanan ini meluas hingga ke sektor layanan publik. Penutupan tersebut memaksa cadangan bahan bakar yang terbatas harus dirasionalisasi, mengakibatkan penghentian sementara pengangkutan limbah dan pengurangan produksi air bersih.
Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa stabilitas pangan di Gaza sangat rapuh. Meski sempat ada perbaikan pada bulan Februari, penutupan perbatasan terbaru ini telah memicu pembalikan situasi secara cepat. Tanpa koridor kemanusiaan yang andal, lembaga bantuan mungkin terpaksa memangkas jatah pangan bagi sebagian besar penduduk yang membutuhkan.(*)

